[K&K] Hipospadia‏
Agen Poker BandarQ Online ituPoker .Taruhan Bola Online
. www.PokeQQ.com www.Agen4d.com
.
Agen DominoQQ Ceme Online ituDewa
www.pokervovo.com .Judi Casino dan Togel Online Indonesia
. Situs Bandar Qiu Terbesar & Jamin Bayar 2015
.ww.bursabet.net
www.pokerkiukiu.com
QQDomino.net Bandar Domino QiuQiu Domino Ceme Poker Online Terpercaya Bandar Judi Casino Online

model dewasa jual lagu karaoke online
www.jadwalfilm.com
bandar taruhan bola
bandarlive
Agen Poker BandarQ Sakong Online Agen Togel Indonesia Online KuponNalo
Results 1 to 1 of 1

Thread: [K&K] Hipospadia‏

  1. #1
    » M D V I « raymond 01's Avatar
    Bergabung
    Feb 2013
    Lokasi
    Jakarta
    Posts
    910

    [K&K] Hipospadia‏

    I. PENDAHULUAN
    Kelainan kongenital pada penis menjadi masalah yang sangat penting karena penis selain berfungsi sebagai saluran pengeluaran urine juga sebagai alat seksual di kemudian hari yang akan berpengaruh pada fertilitas. Salah satu kelainan congenital pada penis yang paling banyak kedua setelah undescensus testiculorum (cryptochidisme) yaitu hipospadia.

    Hipospadia adalah kelainan congenital berupa muara urethtra yang terletak disebelah ventral penis dan sebelah ujung proksimal penis. Letak meatus urethtra bisa terletak pada glandular hingga perineal. Angka kejadian hipospadia adalah 3,2 dari 1000 kelahiran hidup.

    Pada hipospadia tidak didapatkan prepusium ventral sehingga prepusium dorsal menjadi berlebihan (dorsal hood) dan sering disertai dengan chordae (penis angulasi ke ventral). Kadang-kadang didapatkan stenosis meatus urethra, dan anomali bawaan berupa testis maldesensus atau hernia inguinalis. Kejadian seluruh hipospadia yang bersamaan dengan kriporkrismus adalah 9%, tetapi pada hipospadia posterior sebesar 32%. Di Amerika Serikat angka kejadian hipospadia pada kaukasoid lebih tinggi dari pada orang Afrika, Amerika yaitu 1,3.



    II. ANATOMI
    Penis dibentuk oleh jaringan erectile, yang dapat mengeras (ereksi) dan dipakai untuk melakukan kopulasi. Ereksi terjadi oleh karena rongga-rongga di dalam jaringan erectile terisi darah. Terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian yang difiksasi, disebut radiks penis, dan bagian yang mobile dan dinamakan corpus penis.

    Anatomi normal penis terdiri dari sepasang corpora kavernosa yang dibungkus oleh tunika albugenia yang tebal dan fibrous dengan septum di bagiaan tengahnya. Uretra melintasi penis di dalam korpus spongiosum yang terletak dalam posisi ventral pada alur diantara kedua corpora kavernosa. Uretra muncul pada ujung distal dari glans penis yang berbentuk konus. Fascia spermatica atau tunika dartos, adalah suatu lapisan longgar penis yang terletak pada fascia tersebut. Di bawah tunika dartos terdapat fascia Bucks yang mengelilingi corpora kavernosa dan kemudian memisah untuk menutupi korpus spongiosum secara terpisah. Berkas neurovaskuler dorsal terletak dalam fascia Bucks pada diantara kedua corpora kavernosa.



    III. EMBRIOLOGI
    Pada embrio berumur dua minggu baru terdapat dua lapisan yaitu ektoderm dan entoderm. Baru kemudian terbentuk lekukan di tengah-tengah yaitu mesoderm yang kemudian bermigrasi ke perifer, memisahkan ektoderm dan entoderm. Di bagian kaudal ektoderm dan entoderm tetap bersatu membentuk membrane kloaka. Pada permulaan minggu ke-6, terbentuk tonjolan antara umbilical cord dan tail yang disebut genital tubercle. Dibawahnya pada garis tengah terbentuk lekukan dimana bagian lateralnya ada 2 lipatan memanjang yang disebut genital fold.
    Selama minggu ke 7, genital tubercle akan memanjang dan membentuk garis. Ini adalah primordial dari penis bila embrio adalah laki-laki. Bila wanita akan menjadi klitoris.

    Bila terjadi agenesis dari mesoderm, maka genital tubercle tidak akan terbentuk, sehingga penis juga tak terbentuk. Bagian anterior dari membrana kloaka, yaitu membrana urogenitalia akan rupture dan membentuk sinus. Sementara itu sepasang lipatan yang disebut genital fold akan membentuk sisi dari sinus urogenitalia. Bila genitalfold gagal bersatu di atas sinus urogenitalia, maka akan timbul hipospadia. Selama periode ini juga, terbentuk genital swelling di bagian lateral kiri dan kanan. Hipospadia yang terberat yaitu jenis penoscrotal dan perineal, terjadi karena kegagalan fold dan genital swelling untuk bersatu di tengah-tengah.

    Angka kejadian hipospadia sangat dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain faktor genetik, hormonal, ras, geografis dan sekarang yang harus mendapat perhatian khusus yaitu pengeruh pencemaran linkungan limbah industri. Hipospadia menyebabkan terjadinya berbagai tingkatan defisiensi uretra. Jaringan fibrosis yang menyebabkan chordae menggantikan fascia Bucks dan tunika dartos. Kulit dan preputium pada bagian ventral menjadi tipis, tidak sempurna dan membentuk kerudung dorsal di atas glans. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan dimana meatus uretra ekstermus terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal pada ujung glans penis.



    IV. ETIOPATOGENESIS
    Hipospadia terjadi karena gangguan perkembangan uretra anterior yang tidak seempurna sehingga uretra terletak dimana saja sepanjang batang penis sampai perineum. Semakin proksimal muara meatus maka semakin besar kemungkinan ventral penis memendek dan melengkung karena adanya chordate. Sampai saat ini, terjadinya hipospadia masih dianggap karena kekurangan androgen atau kelebihan esterogen pada proses maskulinisasi masa embrional. Devine 1970 mengatakan bahwa deformitas yang terjadi pada penderita hipospadia disebabkan oleh involusi sel-sel interstitial pada testis yang sedang tumbuh yang disertai dengan berhentinya produksi androgen dan akibatnya terjadi maskulinisasi yang tidak sempurna organ genitalia eksterna.


    Ada banyak faktor penyebab hipospadia dan banyak teori yang menyatakan tentang hipospadia, antara lain:

    1. Faktor genetik
    12% berpengaruh terhadap kejadian hipospadia bila punya riwayat keluarga yang menderita hipospadia. 50% berpengaruh terhadap kejadian hipospadia bila bapaknya menderita hipospadia.

    2. Faktor hormonal
    Faktor hormon androgen/esterogen sangat berpengaruh terhadap kejadian hipospadia kerena berpengaruh terhadap proses maskulinisasii masa embrional. Sharpe dan kebaek (1993) mengemukakan hipotesis tentang pengaruh esterogen terhadap kejadian hipospadia bahwa esterogen sangat berperan dalam pembentukaan genital eksterna laki-laki saat embrional.

    Androgen dihasilkan oleh testis dan plasenta karena terjadi defisiensi androgen akan menyebabkan penurunan produksi dehidrotestosterone (DHT) yang dipengaruhi oleh 5 α reduktase, ini berperan dalam pembentukan penis sehingga bila terjadi defisiensi androgen akan menyebabkan kegagalan pembentukan bumbung uretra yang disebut hipospadia.

    3. Faktor pencemaran limbah industri
    Limbah industri berperan sebagai "endocrine discrupting chemicals" baik bersifat eksogenik maupun anti androgenic seperti polychlorobiphenyls, dioxin, furan, pestisida organochlorin, alkilphenol polyerhoxsylates dan phlalites.


    Beberapa kemungkinan yang terjadi berkaitan dengan hipospadia, yaitu;

    1. Kegagalan tunas sel-sel ectoderm yang berasal dari ujung glans untuk tumbuh ke dalam massa glans bergabung dengan sel-sel entoderm sepanjang uretra penis. Hal ini megekibatkan terjadinya osteum uretra eksternum terletak di glans atau corona glandis di permukaan ventral.

    2. Kegagalan bersatunya lipatan genital untuk menutupi alur uretra-uretralgroove ke dalam uretral penis yang juga mengakibatkan osteum uretra eksternum terletak di batang penis. Begitu pula keadaan bumbung genital bersatu dengan sempurna mengakibatkan osteum uretra eksternum bermuara di penoskrotal atau perineal.

    Dari kegagalan perkembangan penis tersebut akan terjadi 5 macam letak osteum uretra eksternum yaitu;

    a. Glans
    b. Koronal glandis
    c. Korpus penis
    d. Penoscrotal
    e. Perineal



    V. KLASIFIKASI

    Barcat (1973) berdasarkan letak osteum uretra eksternum maka hipospadia dibagi beberapa tipe yaitu;

    1. Anterior (60-70%); hipospadia tipe gland, hipospadia tipe coronal
    2. Middle (10-15%); hipospadia tipe penil
    3. Posterior (20%); hipospadia tipe penoscrotal, hipospadia tipe perineal



    VI. DIAGNOSIS
    Kelainan hipospadia diketahui segera setelah kelahiran. Kelainan ini diketahui dimana letak muara uretra tidak diujung glans penis tetapi terletak di ventroproksimal penis. Kelainan ini terbatas di uretra anterior sedangkan leher vesica urinaria dan uretra posterior tidak terganggu sehingga tidak ada gangguan miksi.



    VII. PENATALAKSANAAN
    Tujuan fungsional operasi hipospadia adalah kosmetik penis sehingga fungsi miksi dan fungsi seksual normal (ereksi lurus dan pancaran ejakulasi kuat). Tujuan repair hipospadia yaitu untuk memperbaiki kelainan anatomi maupun bentuk penis yang bengkok karena pengaruh adanya chordae maupun letak osteum uretra eksternum sehingga ada dua hal pokok dalam repair hipospadia, yaitu:

    a. Chordectomi ; merelease chordae sehingga penis bisa lurus ke depan saat ereksi
    b. Urethroplasty; membuat osteum urethtra di ujung glans penis sehingga pancaran urin dan semen bisa lurus ke depan

    Berbagai metode rekonstruksi telah diperkenankan mulai dari metode satu tahap hingga dua tahap. Pilihan metode tergantung dari pengalaman operator. Apabila chordectomi dan urethtroplasty dilakukan dalam satu waktu operasi yang sama disebut satu tahap, bila dilakukan dalam waktu yang berbeda disebut dua tahap. Ada empat hal yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan repair hipospadia agar tujuan operasi bisa dicapai, yaitu usia, tipe hipospadia, besarnya penis, dan ada tidaknya chordae. Usia ideal untuk repair hipospadia usia 6 bulan sampai usia sebelum sekolah karena mempertimbangkan faktor psikologis anak terhadap tindakan operasi daan kelainannya itu sendiri., sehingga tahapan repair hipospadia sudah tercapai sebelum anak sekolah. Sedangkan tipe hipospadia dan besar penis sangat berpengaruh terhadap tahapan dan teknik operasi, hal ini berpengaruh terhadap keberhasilan operasi. Semakin kecil penis dan semakin ke proksimal tipe hipospadia semakin sukar teknik dan keberhasilan operasinya.


    VII.1 Bebagai Prosedur Operasi pada Hipospadia

    1.Prosedur MAGPI
    Prosedur MAGPI sangat fashionable pada tahun 1980-an untuk reparasi hipospadia distal. Ia bukanlah untuk memajukan meatus, tapi ia meratakan glans, sehingga meatus kelihatan sampai ke apeks glans. Retraksi sekunder meatus sering terjadi, oleh itu prosedur ini menjadi kurang popular.

    Garis insisi dilakukan 5mm dibelakang meatus ektopik dan mengikuti cutanemucosal junction dari preputium. Insisi vertikal yang dalam dilakukan pada glanular groove sepanjang 1cm sehingga ia membuka meatus dorsal. Penutupan transversal dari defek yang berbentuk diamond ini meratakan glanular groove dan memperbolehkan pembentukan alur yang lurus.

    Bibir ventral urethra difiksasi dengan holding stitch dan ditarik ke depan. Langkah ini membolehkan sayap lateral glans untuk rotasi ke ventrum. Sleeve approximation kulit penis dilakukan, lalu memotong semua jaringan berlebihan dan meninggalkan penampakan seperti disirkumsisi. Prosedur MAGPI diindikasikan apabila glans lebar dan rata. Stent atau kateter tidak diperlukan dan prosedur ini bisa dilakukan pada pasien rawat jalan.

    2. Prosedur Mathiu
    Pada prosedur Mathiu, dilakukan dua insisi parallel pada kedua-dua sisi urethral plate sampai ke ujung glans dan hingga ke dalam corpus cavernosa. Insisi ini delimits flap kulit perimeatal-based yang akan dilipat dan dijahit ke pinggir urethral plate. Sayap lateral glans didiseksi dari corpus cavernosus dan approximated together sehingga membentuk glans yang berbentuk konus.

    3. Prosedur Snodgras
    Pada prosedur Snodgrass, urethral plate diinsisi secara longitudinal pada midline dari meatus ektopik sampai ke glans dan seterusnya ditubulariisasi sekitat kateter Fr 8. Prosedur ini membentuk area dorsal dalam urethra dengan epitelisasi yang sebsequent.

    4. Prosedur Onlay
    Pada Prosedur Onlay, mukosa preputium berbentuk segi empat dipedikulisasi sampai ke dasar penis dan dipindahkan ke ventrum penis untuk diletakkan di atas urethral plate dengan menggunakan jahitan interuptus 6/0 atau 7/0 atau running suture.
    Apabila urethral plate terlalu sulit untuk dipertahankan, urethroplasti full-tube perlu dilakukan menggunakan flap preputium berbentuk segi empat atau mukosa bucca berbentuk segi empat. Kekurangan utama dari tehnik ini adalah tindakan anostomosis urethra sirkular proksimal yang akan meningkatkan lagi resiko terjadinya stenosis urethra.

    5. Mobilisasi Urethra Koff
    Apabila segmen urethra yang akan direkonstrtuksi terlalu pendek (<2cm) dan apabila urethra distal sehat, mobilisasi full urethra penis bisa dilakukan setelah tehnik Koff. Pada kasus begini, urethra penis dipisahkan seproksimal yang perlu, dan kemudian dipindahkan ke atas untuk membawa meatus ke ujung glans. Panjang yang bisa dicapai adalah sampai 15mm.

    6. Prosedur Thiersch-Duplay
    Dilakukan insisi sepanjang kedua-dua sisi urethral plate dari ujung glans sampai ke pemisah korpus spongiosum. Kedua-dua sayap glans ini didisseksi ke dalam dank e lateral sampai korpus jelas kelihatan. Urethral plate ditubarisasi melingkari kateter French 8 untuk anak-anak bawah tiga tahun, dan dijahit dengan 6/0 atau 7/0 absorbable running suture. Neourethra ditutupi dengan 2 sayap glans sebanyak satu atau dua lapis.

    Teknik reparasi yang paling popular dilakukan oleh dokter bedah plastik adalah teknik modifikasi operasi Thiersch-Duplay. Kelebihan jaringan preputium ditransfer daridorsum penis ke permukaan ventral. Byar (1951) memodifikasi operasi ini dengan membelah preputium pada garis tengah dan membawa flap preputium ini ke arah distal ke permukaan ventral penis.

    Hal ini demikian memberikan kelebihan jaringan rekonstruksi uretra lebih lanjut. Setelah interval sedikitnya 6 bulan, satu strip sentral dari kulitdipasangkan pada permuakaan bentral penis, dan tube strip dari kulit ditarik sejauh mungkin ke arah distal. Byar bisa menutupi uretra baru dengan mempertemukan tepi kulit lateral di garis tengah dengan penutupan yang berlapis-lapis.

    Reparasi hipospadia dianjurkan pada usia prasekolah agar tidak mengganggu kegiatan belajar pada saat operasi. Perlu diingat bahwa seringkali rekonstruksi hipospadia membutuhkan lebih dari sekali operasi, koreksi ulangan jika terjadi komplikasi.

    Pada hipospadia posterior dengan disertai testis maldesensus dianjurkan untuk melakukan uretroskopi praoperatif guna melihat kemungkinan adanya poembesaran utrikulus prostatikus yang mungkin terdapat keraguan jenis kelamin (sexual ambiquity).
    Penyulit yang dapat terjadi setelah operasi hipospadia adalah; fistula uretrokutan, stenosis meatus uretra, striktur uretra, chordae yang belum sepenuhnya terkoreksi, dan timbulnya divertikel uretra.



    VIII. KOMPLIKASI
    Komplikasi yang timbul paska repair hipospadia sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain faktor usia pasien, tipe hipospadia, tahapan operasi, ketelitian teknik operasi, serta perawatan pasca repair hipospadia. Macam komplikasi yang terjadi, yaitu;

    a. Perdarahan
    b. Infeksi
    c. Fistel urethtrokutan
    d. Striktur uretra, stenosis uretra
    e. Divertikel uretra

    Komplikasi paling sering dari reparasi hipospadia adalah fistula, divertikulum, penyempitan uretral, dan stenosis meatus. Penyebab paling sering dari fistulaa adlah nekrosis dari flap yang disebabkan oleh terkumpulnya darah di bawah flap.
    Fistula itu dapat dibiarkan sembuh spontan dengan reparasi sekunder 6 bulan sesudahnya. Untuk itu kateter harus dipakai selama 2 minggu setelah fistulanya sembuh, dengan harapan tepi-tepinya akan meyatu kembali.
    Penyempitan uretra adalah suatu masalah. Bila penyempitan ini padat, maka dilatasi dari uretra akan efektif. Pada penyempitan yang hebat, operasi sekunder diperlukan. Urethtrotomy akan memadai untuk penyempitan yang pendek. Sedang untuk penyempitan yang panjang uretra itu harus dibuka di sepanjang daerah penyempitan dan ketebalan penuh dari graft kulit yang dipakai untuk menyusun kembali ukuran uretra. Suatu kateter bisa digunakan untuk mendukung skin graft.



    IX. PERAWATAN PASCAOPERASI

    Suatu tekanan ringan dan elastic dari perban dipakai untuk memberikan kompres postoperatif bagi reparasi hipospadia, untuk mengatasi udema dan untuk mencegah pendarahan setelah operasi. Dressing harus segera dihentikan bila terlihat keadaan sudah membiru di sekitar daerah tersebut, dan bila terjadi hematoma harus segera diatasi. Setiap kelebihan tekanan yang terjadi karena hematoma akan bisa menyebabkan nekrosis. Oleh karena efek tekanan pada penyembuhan, maka pemakaian kateter yang dipergunakan harus kecil, dan juga steril, terbuat dari plastik, dan dipergunakan dari kateter yang lunak.

    Ereksi waktu malam hari (nocturnal erection) bisa terjadi tanpa terkendali oleh pasien. Obat seperti Amyl nitrit dapat menghilangkan rangsang ereksi dan uapnya dihirup bila masih terjadi ereksi. Pemakaian yang cepat akan mencegah terjadinya ereksi pada siang hari, bila ereksi itu tetap terjadi, maka bisa dicoba Etil klorida.

    Disini tidak ada obat sistematis untuk mencegah ereksi pada malam hari, akan tetapi pemakaian sedative akan sangat membantu. Dalam keadaan dimana terjadi luka yang memburuk sebagai akibat edema pada luka, ereksi, atau hematoma, maka sebaiknya dikompres dengan menggunakan bantalan Saline steril yang hangat. Diversi urine terus dilanjutkan sampai daerah yang luka itu sembuh. Bila jaringan tersebut sudah sembuh, maka masalahnya bisa direparasi dalam operasi yang kedua 6-12 bulan yang akan datang.
    Kekayaan itu penting tapi sehat jauh lebih penting,
    Tanpa hidup sehat, apalah arti hidup bahagia,
    Tubuh sehat, adalah awal suksesmu.
  2. # ADS
    Circuit advertisement
    Bergabung
    Always
    Lokasi
    Advertising world
    Posts
    Many
    BursaBet
     

Agen Togel Nasional Online

Agen Judi bola Online

www.ZenBola.com
Agen Judi Poker Domino 99 Online

Agen Judi bola Online
Judi Poker Domino 99 ituQQ   Agen Judi Togel Online Asli4D