[Radiologi] Tumor Testis.
Agen Poker BandarQ Online ituPoker .Taruhan Bola Online
. www.PokeQQ.com www.Agen4d.com
.
Agen DominoQQ Ceme Online ituDewa
www.pokervovo.com .Judi Casino dan Togel Online Indonesia
. Situs Bandar Qiu Terbesar & Jamin Bayar 2015
.ww.bursabet.net
www.pokerkiukiu.com
QQDomino.net Bandar Domino QiuQiu Domino Ceme Poker Online Terpercaya Bandar Judi Casino Online

model dewasa jual lagu karaoke online
www.jadwalfilm.com
bandar taruhan bola
bandarlive
Agen Poker BandarQ Sakong Online Agen Togel Indonesia Online KuponNalo
Results 1 to 1 of 1

Thread: [Radiologi] Tumor Testis.

  1. #1
    » M D V I « raymond 01's Avatar
    Bergabung
    Feb 2013
    Lokasi
    Jakarta
    Posts
    910

    [Radiologi] Tumor Testis.

    I. PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang
    Testis merupakan organ yang berperan dalam proses reproduksi dan hormonal pria. Fungsi utama dari testis adalah memproduksi sperma dan hormon androgen terutama testosteron. Testis terdapat di dalam skrotum yang merupakan kantung lapisan kulit yang tidak rata dimana dibawahnya terdapat beberapa lapisan, yaitu tunika vaskulosa, tunika albuginea, dan tunika vaginalis. Segala pertumbuhan sel-sel abnormal di dalam testis, yang bisa menyebabkan pembesaran atau benjolan di dalam skrotum disebut sebagai tumor testis.

    Tumor testis merupakan keganasan terbanyak pada pria berusia diantara 15-35 tahun dan merupakan 1-2 % dari semua neoplasma pada pria. Kira-kira 90% dari semua tumor testis primer terdiri atas tumor sel embrional, selanjutnya dapat dijumpai tumor sel Sertoli-Leydig dan limfoma maligna. Insiden tumor testis meningkat pada beberapa dekade terakhir, yakni sebesar 1,2 % per tahun, walaupun begitu angka kematian cenderung menurun dengan angka harapan hidup 5 tahun mencapai 95 %. Sekitar 9000 kasus baru terdiagnosis tiap tahunnya di Amerika Serikat. Angka insiden bervariasi di berbagai belahan dunia, dengan kecenderungan penurunan di benua Asia dan Afrika.

    Akhir-akhir ini terdapat perbaikan usia harapan hidup pasien yang mendapatkan terapi jika dibandingkan dengan 30 tahun yang lalu, karena sarana diagnosis lebih baik, ditemukan tumor marker, ditemukan regimen kemoterapi dan radiasi, serta teknik pembedahan yang lebih baik. Angka mortalitas menurun dari 50% pada tahun 1970 menjadi 5% pada tahun 1977.

    Diagnosis dini pada tumor testis sangat penting dilakukan mengingat doubling time tumor testis diperkirakan berkisar antara 10-30 hari saja. Meskipun angka harapan hidup pada berbagai stadium masih tinggi, namun diagnosis pada stadium dini memberikan prognosis jangka panjang yang lebih baik.

    Oleh karena itu melalui makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai etiologi, patofisiologi, diagnosis, dan terapi tumor testis sehingga dapat menunjang diagnosis dini dan meningkatkan prognosis jangka panjang pada pasien tumor testis.


    2. Rumusan Masalah
    a. Bagaimanakah penegakan diagnosis dari tumor testis?
    b. Bagaimanakah gambaran radiologis dari tumor testis?


    3. Tujuan
    a. Untuk mengetahui penegakan diagnosis dari tumor testis.
    b. Untuk mengetahui gambaran radiologis dari tumor testis.



    II. TINJAUAN PUSTAKA

    A. Testis
    Testis merupakan kelenjar ganda, karena secara fungsional bersifat eksokrin dan juga endokrin. Bagian eksokrin terutama menghasilkan sel kelamin, sehingga testis dianggap sebagai kelenjar sitogenik. Bagian endokrin menghasilkan sekret internal yang dilepaskan oleh sel-sel khusus.


    B. Simpai Testis
    Testis tergantung di dalam skrotum dan dibungkus oleh simpai testis yang terdiri atas 3 lapisan:

    1. lapisan terluar,tunika vaginalis
    2. lapisan tengah, tunika albuginea
    3. lapisan terdalam tunika vaskulosa

    Tunika vaginalis merupakan selapis sel mesotel gepeng, seringkali rusak pada saat pembuatan sajian. Lapisan ini merupakan bagian dari sebuah kantung serosa yang tertutup, berasal dari peritoneum yang membungkus permukaan lateral dan anterior testis.

    Lapisan ini terletak diatas lamina basal yang memisahkannya dari lapisan tengah yang paling jelas yaitu tunika albuginea. Dulu tunika albuginea digambarkan sebagai lapisan tebal, terdiri atas jaringan ikat padat fibro elastis, tapi sekarang dapat diperlihatkan juga adanya sel otot polos. Pada manusia, meskipun unsur-unsur otot polos tersebar luas, tapi umumnya terdapat paling banyak di bagian posterior testis dekat epididimis. Lapisan terdalam simpai testis adalah tunika vaskulosa terdiri atas jala-jala kapiler darah yang terbenam di dalam jaringan ikat longgar.

    Simpai testis bukan merupakan suatu pembungkus yang kaku, seperti persangkaan dahulu, melainkan merupakan suatu selaput dinamis yang mampu berkerut secara berkala. Kerutan-kerutan tersebut mungkin bertujuan untuk mempertahankan tekanan yang sesuai di dalam testis, mengatur gerakan keluar masuknya cairan ke dalam kapiler-kapiler dan untuk membantu gerakan peristaltik sistem saluran, sehingga membantu gerakan spermatozoa ke arah luar. Selain itu, simpai tersebut agaknya memiliki sifat-sifat selaput yang semipermeable dan turut berperan dalam beberapa faal testis.

    Tunika albuginea menebal pada permukaan posterior testis dan menjorok masuk ke dalam kelenjar sebagai mediastinum testis. sekat-sekat fibrosa yang tipis menyebar dari mediastinum testis ke arah simpai testis dan membagi permukaan dalam testis menjadi kurang lebih 250 bangunan berbentuk pyramid yang disebut lobuli testis, dengan bagian puncaknya menghadap ke mediastinum. Sekat-sekat tersebut memperlihatkan bagian-bagian yang tidak lengkap, sehingga lobules testis dapat berhubungan satu dengan lainnya secara bebas. Tiap lobules terdiri dari satu sampai empat tubulus seminiferous yang sangat berkelok-kelok, dibungkus oleh stroma jaringan ikat longgar yang mengandung pembuluh darah, saraf dan beberapa jenis sel, terutama sel interstitial yang spesifik yaitu sel Leydig. Sel-sel ini besar, umunya berkelompok, berperan penting karena fungsi endokrinnya.


    C. Tubulus Seminiferus
    Tubulus seminiferous sangat berkelok dengan garis tengah kurang lebih 0,2 mm dan panjang 30 sampai 70 cm. tubulus berakhir sebagai ujung bebas yang buntu atatu beranastomosis dengan tubulus-tubulus didekatnya dari lobules yang sama atau kadang-kadang dengan tubulus dari lobules sebelahnya. Pada puncak lobules, tiap tubulus tidak berkelok-kelok lagi dan menjadi lurus dan disebut sebagai tubulus rektus. Tubulus seminierus dibatasi oleh suatu epitel germinal kompleks atau epitel seminiferous, yang merupakan modifikasi epitel berlapis kuboid.

    Epitel tersebut terletak diatas lamina basal yang tipis dan di luarnya diliputi oleh suatu daerah khusus terdiri atas jaringan ikat fibrosa yang disebut jaringan peritubuar atau pembatas yang terdiri dari banyak serat jaringan ikat, fibroblast yang pipih dan beberapa sel bersifat sebagai sel otot polos. Unsur-unsur mioid ini mempunyai “junctional complex” pada bagian sisi sel-sel disampingnya yang menghambat, namun tidak seluruhnya, penyeberangan makromolekul dari ruang interstitial ke epitel seminiferous. Diduga kontraksi sel-sel mioid ini dapat mengubah diameter tubulus seminiferous dan membantu gerakan spermatozoa sepanjang tubulus. Ketebalan daerah ini berbeda-beda sesuai umur dan memperlihatkan peebalan pada beberapa keadaan klinik, khususnya yang berkaitan dengan kelainan kromosom. Suatu sistem kapiler limfe terdapat banyak di luar jaringan peritubular.


    D. Bagian Interstitium
    Jaringan interstitial yang terdapat dalam lobulis testis, terletak diantara tubulus seminiferous. Jaringan interstitial mengandung beberapa serat kolagen, pembuluh darah dan limfe, saraf, bermacam-macam jenis sel termask fibroblast, makrofag, sel mast, dan beberapa sel mesenkim yang belum berkembang. Pembuluh darah dan saraf keluar masuk melalui mediastinum dan membentuk anyaman sekitar tubulus. Sel interstitial Leydig merupakan sel yang memberikan gambaran mencolok untuk jaringan tersebut. Sel-sel Leydig letaknya berkelompok memadat pada daerah seminiferous. Sel-sel tersebut besar, dengan sitoplasma sering tampak bervakuola pada pemeriksaan dengan mikroskop cahaya. Inti selnya mengandung butir-butir kromatin kasar dan anak inti yang jelas.


    E. Pembuluh Darah, Pembuluh Limfe Dan Saraf
    Saat arteri mencapai testis, pembuluh darah tersebut diliputi oleh pleksus vena yang luas yaitu pleksus pampiniformis, yang mendinginkan darah arteri melalui mekanisme penggantian panas lingkar-balik. Didalam testis, cabang arteri testis menembus tunika albuginea dan masuk ke tunika vaskulosa. Cabang-cabang arteriol yang lebih kecil mengikuti septula testis masuk ke parenkim dan berakhir sebagai anyaman kapiler. Pembuluh limfe kecil membentuk anyaman luas didalam jaringan interstitial.

    Saraf mengikuti pembuluh darah utama dan menyusun pleksus halus disekitar pembuluh yang lebih kecil dan berhubungan dengan sel-sel interstitial.



    III. TUMOR TESTIS

    A. Definisi
    Tumor testis merupakan benjolan yang berasal dari neoplasma sel germinal atau jaringan stroma testis. Lebih dari 90% tumor testis berasal dari sel germinal.


    B. Epidemiologi
    Tumor testis banyak terjadi di antara pria Kaukasian dan jarang terjadi pada pria keturunan Afrika. Tumor testis jarang terjadi di Asia dan Afrika. Kejadian di seluruh dunia telah meningkat sejak tahun 1960-an, dengan tingkat prevalensi tertinggi di Skandinavia, Jerman, dan Selandia Baru.

    Tumor ganas testis yang paling umum terjadi di antara pria berusia 15-40 tahun, memiliki tiga puncak: bayi sampai usia empat tahun sebagai teratoma dan yolk sac tumor, usia 25-40 tahun sebagai post-pubertas seminoma dan non seminoma, dan dari umur 60 sebagai spermatositik seminoma.Tumor sel germinal pada testis merupakan kanker yang paling umum pada pria muda antara usia 15 dan 35 tahun.


    C. Etiologi
    Penyebab pasti kanker testis tidak diketahui. Beberapa faktor yang meningkatkan resiko kanker testis antara lain sebagai berikut:

    - Undesensus testis. Salah satu faktor resiko utama kanker testis adalah undesensus testis atau cryptorchidismus. Sebelum lahir, testis berkembang dalam abdomen fetus dan kemudian mengalami desensus ke skrotum sebelum lahir. Namun, pada sekitar 3% bayi laki-laki testis tidak turun ke dalam skrotum. Testis dapat tetap berada dalam abdomen atau berhenti di inguinal (American Cancer Society, 2011). Cryptorchidismus dapat terjadi pada salah satu atau kedua testis .

    Pria dengan cryptorchidismus beresiko 3-5 kali lebih tinggi terkena kanker testis, terutama pada testis yang masih berada dalam abdomen.
    - Paparan terhadap dietilstilbestrol (DES) selama dalam kandungan.
    - Atrofi testis. Testis yang gagal berkembang secara normal tidak dapat matur dan tumbuh sampai ukuran yang diharapkan.
    - Paparan terhadap bahan kimia dan polutan.
    - Riwayat keluarga.
    - Infeksi.
    - Penyebab lain yang belum terbukti antara lain: Paparan terhadap obat-obatan tertentu, kurangnya aktivitas fisik, tingginya aktivitas seksual, dan duduk dengan kaki menyilang (meningkatkan suhu testis).


    D. Patogenesis
    Tumor germ cell testis meliputi lebih dari 90% seluruh tumor testis. Tumor ini berasal dari pluripotent germ cell yang dapat berdiferensiasi menjadi struktur embrional (teratoma dan karsinoma embrional), struktur plasenta (tumor yolk sac dan koriokarsinoma) atau seminoma (tumor germ cell yang paling primitif).

    Asal dan patogenesis tumor germ cell testis masih belum jelas. Insiden tinggi pada kelompok dengan kelainan kongenital pada perkembangan gonad dan diferensiasi seksual berhubungan erat dengan pengaruh faktor intrauterine. Transformasi neoplastik germ cell diinisiasi faktor in utero, terutama pada individu dengan kerentanan genetik. Diduga terjadi gangguan fetal programming pada perkembangan gonad karena ketidakseimbangan hormonal intrauterine, yang dapat disebabkan oleh kelainan genetik atau faktor eksogen yang menyebabkan kelebihan estrogen atau defisit androgen.

    Sel karsinoma in situ dan primordial germ cell tampak serupa dan memiliki ciri-ciri khusus yaitu kurangnya jembatan interseluler dan ekspresi berbagai antigen. Pada perkembangan gonad yang menyimpang, pola ekspresi beberapa antigen ini terganggu. Penelitian tentang pengaturan siklus sel pada germ cell normal dan neoplastik menunjukkan bahwa sel-sel karsinoma in situ cenderung membelah secara mitosis, walaupun sel-sel tersebut diturunkan dari spermatosit yang membelah secara meiosis.

    Penyebaran limfatik merupakan penyebab umum metastasis dan umumnya terjadi melalui pembuluh limfe spermatic cord ke retroperitoneal. Pengecualian untuk koriokarsinoma yang menyebar melalui invasi vaskular. Pada kondisi jarang, terdapat komunikasi langsung antara pembuluh limfe testis dan ductus thoracicus yang menyebabkan metastasis pada cavum thorax tanpa melibatkan retroperitoneal. Invasi skrotum dapat terjadi pada metastasis inguinal. Kanker germ cell dapat mengalami metastasis jauh ekstranodus setelah invasi vaskular atau embolisasi tumos melalui hubungan limfatik-vena. Hal ini menyebabkan kegagalan orkiektomi radikal.

    Doubling time non-seminoma sekitar 10-30 hari. Hal ini ditunjukkan dari perubahan tumor marker serum. Sebagian besar kegagalan terapi diikuti dengan mortalitas dalam 2-3 tahun pertama setelah diagnosis. Seminoma memiliki doubling time yang lebih lambat dan dapat rekuran dalam 2-10 tahun setelah terapi awal. Berdasarkan natural history penyakit, kurabilitas setelah terapi multimodal baru dapat ditentukan setelah 5 tahun. Namun, relaps dapat terjadi 10 tahun setelah terapi.


    E. Klasifikasi Tumor Testis
    Sebagian besar (± 95%) tumor testis primer, berasal dari sel germinal sedangkan sisanya berasal dari non germinal. Tumor germinal testis terdiri atas seminoma dan non seminoma. Seminoma berbeda sifat-sifatnya dengan non seminoma, antara lain sifat keganasannya, respon terhadap radioterapi dan prognosis tumor.

    Tumor yang bukan berasal dari sel-sel germinal atau non germinal di antaranya adalah tumor sel Leydig, sel sertoli dan gonadoblastoma.

    Selain berada didalam testis, tumor sel germinal juga bisa berada di luar testis sebagai extragonadal germ cell tumor antara lain dapat berada di mediastinum, retroperitoneum, daerah sakrokoksigeus dan glandula pineal.

    Tumor Ganas Testis:
    a. Primer
    b. Sekunder
    c. Non-Germinal
    d. Germinal
    e. Non Seminoma
    f. Seminoma
    g. Spermatositik · Anaplastik
    h. Klasik
    i. Limfoma · Lekemia infiltratif
    j· Tumor sel Leydig · Tumor sel Sertoli
    k. Gonadoblastoma
    l. Karsinoma sel Embrional · Korio karsinoma
    m. Teratoma
    n. Tumor Yolk sac

    Stadium perluasan tumor sel embrional didasarkan atas lokalisasi metastasis, jika tidak dapat ditunjukkan metastasis dan zat-zat penanda tumor HCG dan AFP tidak dapat ditunjukkan dalam serum atau menjadi normal setelah orkidektomi, maka dikatakan stadiumnya adalah stadium I. Pada stadium II dapat ditetapkan adanya metastasis kelenjar limfe retroperitoneal, pada stadium III metastasis kelenjar limfe di atas diafragma, pada stadium IV metastasis di paru, hepar, otak atau tulang.


    F. Diagnosis
    Seperti mendiagnosis penyakit lainnnya, diperlukan anamnesa yang lengkap, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis.


    1. Anamnesis (Menanyakan detail kondisi kesehatan):
    Langkah pertama dalam mendiagnosis kanker testis adalah menanyakan dengan detail dan lengkap tentang masalah kesehatan. Kondisi kesehatan secara umum, riwayat kesehatan keluarga, faktor resiko kanker testis, dan gejala yang dirasakan. Pasien biasanya datang dengan berbagai keluhan sebagai berikut : sebuah benjolan atau pembesaran pada testis, perasaan berat di skrotum, rasa nyeri di perut atau pangkal paha, penumpukan cairan secara tiba-tiba di dalam skrotum, nyeri atau ketidaknyamanan di testis atau skrotum, pembesaran payudara, biasanya mempengaruhi hanya satu testis.

    2. Pemeriksaan fisik
    Selama pemeriksaan fisik, bisa didapatkan testis membesar, membengkak, perubahan payudara (gynecomastia), benjolan pada abdomen kemungkinan karena pembesaran kelenjar limfe (tanda penyebaran kanker).

    Diagnosis diferensial meliputi setiap benjolan didalam skrotum yang berhubungan dengan testis dan keluhan-keluhan pada daerah testis, seperti :

    - Epididimitis – menyebabkan pembesaran akut pada testis, ditandai dengan nyeri, demam, disuria, dan piuria. Gejala yang sama dapat disebabkan oleh kanker testis yang mendasari.
    - Orkitis – nyeri dan gejala-gejala inflamasi
    - Torsio testis
    - Hidrokel – kemungkinan hidrokel simtomatik terdapat sebagai akibat tumor testis, diperlukan pungsi dan kemudian palpasi, biasanya jinak, tetapi sekitar 10% dari kanker testis berhubungan dengan Hydroceles.
    - Varikokel – adalah pembengkakan vena di pleksus pampiniformis dari korda spermatika.
    - Spermatokel – adalah massa translucent yang terletak posterior dan superior testis, dan terasa kistik.
    - Hernia skrotalis


    G. Pemeriksaan Penunjang
    Untuk menyingkirkan diagnosa diferensial diperlukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium, penanda tumor, radiografi, USG, CT-Scan.

    Penanda tumor pada karsinoma testis germinal bermanfaat untuk membantu diagnosis, penentuan stadium tumor, monitoring respon pengobatan dan sebagai indikator prognosis tumor testis. Penanda tumor yang paling sering diperiksa pada tumor testis adalah αFP (alfa feto protein) adalah glikoprotein yang dihasilkan oleh karsinoma embrional, teratokarsinoma atau tumor yolk sac, tetapi tidak di produksi oleh koriokarsinoma murni dan seminoma murni. Penanda tumor ini memiliki waktu paruh 5-7 hari.

    Pada penderita dengan non-seminoma zat-zat penanda tumor spesifik dapat ditunjukkan dalam serum yaitu Human Chorion Gonadotropin (HCG), βHCG (Human chorionic gonadotropin)adalah suatu glikoprotein yang pada keadaan normal diproduksi oleh jaringan trofoblas. Penanda tumor ini meningkat pada semua pasien koriokarsinoma, pada 40-60% pasien karsinoma embrional dan 5% pada seminoma murni. Pada penderita dengan seminoma kadar HCG dapat naik sedikit, sering juga terdapat kenaikan Placenta Like Alkaline Phosphatase (PLAP). Pada semua penderita tumor sel embrional Laktat Dehidrogenase (LDH) dapat naik. Penanda tumor ini memiliki waktu paruh 24-36 jam.

    Pencitraan yang digunakan untuk mendiagnosis Tumor Testis adalah :

    1. Ultrasonografi (USG)
    - Ultrasonografi pada testis digunakan untuk menentukan penempatan suatu massa yang dapat teraba ketika dicurigai adanya tumor pada testis. Biasanya, lesi ekstra-testikular yang dapat diraba bersifat jinak. Pada sisi lain, massa intratestikular, terutama jika teraba, bersifat ganas dan harus segera dioperasi. Oleh karena itu, ultrasonografi bermanfaat untuk melokalisir kelainan yang dapat diraba dan untuk menentukan tindakan pembedahan apa yang akan dilakukan.

    - Pemeriksaan ultrasonografi pada umumnya dilakukan dengan menggunakan suatu transduser frekuensi tinggi yang linier untuk membandingkan echotekstur testis pada area yang heterogen. Tumor testis bersifat hypoechoic terhadap jaringan parenkim di sekitarnya pada kira-kira 95% kasus. Carmignani et al, (2005); Schwerk et al, (1987) menyatakan bahwa lesi seminoma lebih sering bersifat hypoechoic homogen dan lesi nonseminoma sering bersifat kistik, dengan diselang-selingi oleh proses kalsifikasi.

    Ultrasonografi pada tumor testis
    Ultrasonografi pada tumor testis membantu membedakan massa intra atau ekstra testis, soliter atau multiple, uni atau bilateral. Informasi ini membantu penegakan diagnosis. Lesi intratestikular soliter merupakan neoplasma, sedangkan lesi ekstratestikular yang bilateral atau multifocal biasanya jinak.

    USG testis digunakan untuk menentukan lokasi massa yang dicurigai karsinoma testis. Secara umum, massa ekstratesticular biasanya jinak, sedangkan massa intratesticular biasanya ganas dan memerlukan eksplorasi bedah. Oleh karena itu, USG digunakan untuk menentukan lokasi massa dan menetukan perlunya tindakan pembedahan.

    Gambaran USG pada tumor Testis:
    a. Tumor Testis Seminoma
    Pada tumor seminoma didapatkan gambaran area hypoechoid baik focal maupun difuse. Jika focal dan perifer akan menyebabkan penonjolan tunica albuginea. Persinggungan antara tumor dan parenkim testis normal tajam. Kadang, infiltrasi tumor difuse menyebabkan gambaraan hipoechoid general, sehingga hanya bisa dibandingkan dengan testis kontralateral.

    b. Tumor Testis Nonseminoma
    Tumor nonseminoma memberikan gambaran lebih heterogen echogenisitasnya karena area kistik atau foci hiperechoic, yang kadang diselingi daerah kalsifikasi. Batas tumor tidak jelas, dan kantur testis lobulated. Pada kanker sel Embryonal memberikan gambaran hipoechoid diselingi komponen kistik. Teratoma dan choriocarcinoma memberikan gambaran heterogen dengan kalsifikasi internal multiple. Sedangkan tumor sel Stromal (contohnya, tumor sel Leydig dan Sertoli) umumnya jelas dan hipoechoic dan sering disertai kalsifikasi.

    Gambaran testis kiri menunjukkan penggantian hampir keseluruhan testis oleh massa heterogen dengan area hypoechogenicity avascular yang multipel, temuan yang menunjukkan pendarahan dan nekrosis. Microlithiasis tampak pada residuu jaringan testis normal di bagian tepi tumor. Testis kiri terukur 4.2 × 3.5 × 3.1 cm.

    Karsinoma testis relative hipoechoic dibandingkan dengan parenkim sekitarnya pada 95% kasus. Seminoma berbatas jelas dalam tunika albuginea, lebih hipoechoic dan homogen. Kanker sel embrional hipoechoic dengan kalsifikasi yang tersebar. Teratoma dan koriokarsinoma biasanya heterogen dengan kalsifikasi multiple di dalamnya. Tumor sel stroma (misalnya tumor sel Leydig dan Sertoli) umumnya berbatas jelas dan hipoechoic, tetapi sering terdapat kalsifikasi. Limfoma dan leukemia pada testis tampak sebagai proses difus, berbatas tidak jelas dengan echogenicity yang berkurang.

    Apabila tampak lesi multiple, diagnosis diferensial dapat diperluas menjadi proses metastasis, seperti leukemia dan limfoma, serta proses inflamasi, seperti sarcoid. Testicular microlithiasis (≥ 5 atau lebih mikrokalsifikasi dalam testis) terbentuk dari kalsifikasi konsentris dari serabut kolagen intrasubstansi. Azzopardi tumor adalah nama yang digunakan untuk tumor yang mengalami nekrosis dan kalsifikasi secara spontan karena kurangnya supply darah.

    c. False positives/negatives
    False-negative sering terjadi pada proses keganasan yang infiltratif. Pada kondisi seperti leukemia atau limfoma yang menyebabkan penurunan echogenicity difus bilateral, proses keganasan infiltrative sulit untuk dikenali.

    False-positive tampak pada berbagai kondisi. Rete testis yang mengalami dilatasi dapat tampak menyerupai massa kistik. Epidermoid tumor tampak sebagai massa yang heterogen, biasanya avaskular, dengan lapisan hyperechoic and hypoechoic yang membentuk cincin. results are seen in a variety of conditions. Abses atau flegmon testis hipoechoic dan sering berkaitan dengan peningkatan vaskularisasi. Infark testis tampak sebagai penurunan echogenicity berbatas tidak jelas, mirip dengan proses keganasan infiltrasif yang difus.

    Apabila terdapat riwayat trauma dan USG menunjukkan fokus hipoechoic perlu diduga hematoma. Hematoma dan tumor testi sulit dibedakan pada pemeriksaan awal, sehingga perlu dilakukan follow up dengan USG untuk meyakinkan hematoma yang mengalammi resolusi atau tumor.


    2. CT scan
    - Computed tomography, atau CT scan digunakan untuk mengidentifikasi penyebaran tumor ke kelenjar getah bening.CT scan dapat digunakan untuk mencari kanker telah menyebar di luar testis

    - Staging dari tumor testis merupakan indikasi apakah tumor telah menyebar ke bagian lain dari tubuh. Staging berguna dalam menentukan rencana perawatan untuk tumor dan ukuran sejauh mana tumor telah menyebar.

    - Staging biasanya dilakukan melalui CT scan. CT scan adalah serangkaian gambar sinar-X yang mewakili potongan tubuh. Dalam kasus tumor testis, biasanya CT scan akan terbatas pada panggul, perut, dan dada. Sebelum CT scan, pasien harus minum dua liter larutan barium sulfat yang akan membuat rasa ingin muntah. Biasanya akan diambil satu siri gambar tanpa kontras dan kontras. Kontras disuntikkan ke pembuluh darah melalui infus. Ketika kontras berada dalam sistem tubuh , pasien akan dapat merasakan operasi sinar-X karena pasien akan merasa sangat panas.


    3. Chest X-ray
    Chest X-ray digunakan untuk mengetahui kanker testis menyebar ke paru-paru. kanker testis mudah menyebar ke organ-organ lainnya dimana yang paling sering adalah penyebaran ke paru-paru.


    4. MRI Scan
    MRI digunakan untuk mengetahui metastase kanker. MRI juga digunakan jika x-ray atau CT scan tidak memberikan gambaran yang jelas. Gambar-gambar ini dapat menunjukkan pembesaran kelenjar getah bening dan pertumbuhan abnormal pada organ tertentu yang mungkin menunjukkan bahwa kanker telah menyebar.

    MRI Tumor Testis:

    A.Tumor jinak Intratestikular

    a. Hiperplasia sel leydig
    Hiperplasia sel Leydig merupakan tumor jinak yang langka yang ditandai dengan peningkatan jumlah sel Leydig. Hiperplasia ini sering multifokal dan sering bilateral. Hiperplasia sel Leydig biasanya asimtomatik pada orang dewasa, namun pada anak-anak dapat menyebabkan pubertas dini yang disebabkan oleh sekresi hormon. Berbagai kondisi yang terkait dengan hiperplasia sel leydig seperti kriptokismus, kongenital adrenal hiperplasia, klinefelter sindrom, tumor sel germinal yang memproduksi hCG dan terapi eksogen dari hCG. Pada pencitraan, hiperplasia sel Leydig bermanifestasi sebagai nodul intratestikular atau nodul diameter berukuran 1-6 mm. Pada USG, nodul mungkin hipoechoic atau hiperechoic. Pada MRI tumor ini menimbulkan gambaran nodul multiple pada isointense pada T1 dan hipointense T2.Nodul multipel ditemukan dan lebih banyak terdeteksi dengan MRI dibandingkan dengan usg. Gambaran akan semakin jelas dengan kontras gadolinium.

    b. Intratestikular Lipoma.
    Intratestikular lipoma merupakan tumor jinak intratestikular yang terdiri dari jaringan lemak yang cukup jarang ditemui. Pada pencitraan usg, akan tampak lesi yang hiperechoic yang homogen dan nonshadowing tanpa adanya aliran darah pada pencitraan color doppler, dan pada pencitraan MRI, gambaran lesi mengikuti karakteristik lemak. Gambaran MRI menunjkkan hiperintense pada T1 maupun T2.


    B. Tumor Testis Berpotensi Ganas

    a. Tumor Sel Leydig
    Tumor sel Leydig merupakan tumor yang berasal dari stroma sex-cord yang timbul dari interstitium gonad laki-laki, terdiri dari 1%-3% dari seluruh neoplasma testis. Tumor ini dapat murni atau campur dengan tumor stroma sex-cord atau germinal sel. Tumor sel Leydig biasanya jinak, tetapi varian ganas juga bisa terjadi. Berbeda dengan hiperplasia sel Leydig, tumor sel Leydig sering menimbulkan gejala dan mengaktifkan hormon, sehingga menyebabkan feminisasi atau virilizing sindrome. Terapi utamanya pada tumor sel Leydig adalah dengan orchiectomy radikal. Namun, enukleasi sedang dikembangkan untuk pengobatan baik dewasa maupun pasien pediatrik. Tumor sel Leydig biasanya muncul sebagai nodul hipoechoic pada USG. Pada pencitraan MRI, tumor sel Leydig digambarkan sebagai isointense pada T1 dan hipointense pada T2 dibandingkan dengan testis yang normal,yang ditandai dengan peningkatan corakan yang homogen.

    Tumor sel Leydig juga dapat menunjukkan gambaran kapsuler dengan intensitas tinggi pada T2 dan mungkin memiliki scar yang memiliki intensitas tinggi pada T2. Dengan demikian, pencitraan MRI pada tumor sel Leydig tidak cukup spesifik untuk menyingkirkan diagnosis alternatif, terutama tumor sel germinal.

    b. Tumor Sel Sertoli
    Tumor sel Sertoli, seperti tumor sel Leydig, berasal dari sex cord-stromal . Tumor sel Sertoli merupakan tumor dengan angka kejadian sekitar 1% dari tumor testis. Terjadi dalam 4 dekade pertama kehidupan. Tumor sel sertoli yang patologis beragam, dengan berbagai jumlah komponen stroma dan epitel. Sebagian besar tumor sel Sertoli jinak, tapi 10% -15% kasus menunjukkan metastasis, dan tidak mungkin untuk membedakan jinak dari subtipe ganas patologis. Gambaran pada USG bermacam-macam dan termasuk multicystic gambaran "spoke wheel" atau peningkatan secara difus dari echogenisitas yang mencerminkan matriks kolagen. Pada gambaran MRI bisa ditandai peningkatan homogensitas dari tumor. Nodul multipel homogen dengan isointense pada T1 dan hiperintense pada T2. Namun bisa juga gambarannya berupa homogen dengan isointense pada T1, hipointense pada T2, juga dapat terjadi sehingga menunjukkan bahwa tumor sel Sertoli mungkin memiliki gambaran bervariasi pada pencitraan MRI. Dengan demikian, pencitraan MR tidak cukup spesifik untuk membedakan dengan jenis tumor sel germinal yang lain.

    c. Germ cell tumor
    Tumor sel germinal merupakan tumor ganas dengan angka kejadian 95% dari karsinoma testis. Tumor sel germinal terbagi antara seminoma dan tumor germinal nonseminoma. Tumor germinal Nonseminoma meliputi yolk sactumor, teratoma, dankoriokarsinoma. Penentuan subtipe histologis umumnya tidak penting dalam menentukan manajemen awal pembedahan. Tumor germinal tipe campuran adalah jenis yang paling banyak (40%) dari tumor sel germinal nonseminomatous. Tumor Intratestikular jauh lebih mungkin tumor germinal sel ganas daripada jenis lainnya. Pada pencitraan USG biasanya cukup untuk menegakkan diagnosis. Seminoma cenderung homogen dalam echotexture, sedangkan tumor germinal nonseminomatous lebih heterogen. Pada pencitraan MRI dapat membantu untuk membedakan subtipe histologis.

    Seminoma relatif homogen dalam intensitas dan biasanya hipointense sampai normal pada T2. Septa fibrovascular dapat dideteksi sebagai daerah bandlike yang hipointense pada T1 dan T2 dibandingkan dari tumor. Tumor germinal Nonseminomatous sel memiliki karakteristik intensitas yang heterogen dan jika terjadi peningkatan maka menunjukkan nekrosis dan perdarahan. Meskipun karakteristik pencitraan dari seminoma dan tumor sel germinal nonseminomatous biasanya dapat dibedakan, namun ada tumpang tindih. Sehingga spesifitasnya tidak terlalu tinggi.


    C. Seminoma
    Sekitar 95% dari tumor ganas testis adalah tumor sel germinal, dan seminoma adalah subtipe histologis yang paling umum. Dibandingkan dengan tumor sel germinal nonseminomatous, seminoma terjadi pada populasi pasien yang lebih tua, dengan usia rata sekitar 40 tahun. Tumor ini memiliki prognosis yang baik karena sensitivitas terhadap radiasi dan kemoterapi cukup baik. Pada gambaran USG skrotum, didapatkan gambaran massa intratestikular hypoechoic dan biasanya homogen, sering dengan batas lobulated, sehingga menimbulkan gambaran massa multifokal . Dibandingkan dengan tumor nonseminomatous, seminoma cenderung menunjukkan kalsifikasi atau daerah kistik. Kecuali jika ukurannya cukup besar, seminoma umumnya lebih homogen dalam echotexture daripada tumor nonseminomatous. Pada pencitraan MRI, seminoma biasanya homogen dalam penampilan dan relatif isointense dibandingkan parenkim testis normal pada T1 dan hipointense pada T2. Namun, pencitraan MRI tidak cukup sensitif untuk membedakan antara subtipe yang berbeda dari neoplasma testis.


    D. Nonseminoma
    Subtipe dari nonseminoma meliputi tumoryolksac, karsinomaselembrional, teratokarsinoma, teratoma, dankoriokarsinoma. Pada gambaran USG, tumor nonseminomatous cenderung lebih heterogen dalam echotexture dengan margin yang tidak teratur. Nonseminomatous tumor lebih sering memiliki area kistik dan fokus echogenic jika dibandingkan dengan seminoma. Fokus echogenic dapat terjadi akibat kalsifikasi, perdarahan, atau fibrosis . Pada pencitraan MRI, bila dibandingkan dengan testis yang normal, tumor ini biasanya iso-sampai hiperintense pada T1 dan hipointense pada T2. Secara keseluruhan gambaran akan menunjukkan heterogen pada sebagian besar kasus karena adanya jenis sel campuran, perdarahan, dan nekrosis.



    IV. PENATALAKSANAAN

    Pada dugaan tumor testis tidak diperbolehkan melakukan biopsi testis, karena itu untuk penegakan diagnosis patologi anatomi, bahan jaringan harus diambil dari orkidektomi. Orkidektomi dilakukan melalui pendekatan inguinal setelah mengangkat testis dan funikulus spermatikus sampai anulus inguinalis internus. Biopsi atau pendekatan trans-skrotal tidak diperbolehkan karena ditakutkan akan membuka peluang sel-sel tumor mengadakan penyebaran.

    Dari hasil pemeriksaan patologi dapat dikategorikan antara seminoma dan non seminoma. Jenis seminoma memberikan respon yang cukup baik terhadap radiasi sedangkan jenis non seminoma tidak sensitif. Oleh karena itu radiasi eksterna dipakai sebagai terapi ajuvan pada seminoma testis. Pada non seminoma yang belum melewati stadium III dilakukan pembersihan kelerjar retriperitoneal atau retroperitoneal lymphnode dissection (RPLND). Tindakan diseksi kelenjar pada pembesaran aorta yang sangat besar didahului dengan pemberian sitostatika terlebih dahulu dengan harapan akan terjadi downstaging dan ukuran tumor akan mengecil.

    Tumor testis
    Orkidektomi (inguinal)
    Patologi anatomi (+) Staging
    Seminoma
    Non seminoma
    Stadium I-IIA
    Stadium IIB-III
    Stadium I-IIA
    Stadium IIB-III
    Radiasi
    Sitostatika-> radiasi
    RPLND
    Sitostatika-RPLND



    V. PROGNOSA

    Setelah menjalani terapi tumor testis, biasanya pasien dapat menjalani kehidupan seksualnya secara normal. Kemampuan ereksi dan mencapai orgasme tetap tidak berubah setelah terapi. Akan tetapi, laki- laki yang berkeinginan untuk mendapatkan keturunan disarankan untuk menyimpan spermanya di bank sperma sebagai langkah berjaga-jaga sekiranya terjadi infertilitas akibat terapi tumor kanker. Orchiectomi sendiri tidak akan menyebabkan infertilitas, tetapi kemoterapi, radioterapi dan RPLND yang dijalani setelah operasi yang mempunyai potensi yang tinggi dalam mengakibatkan infertilitas.

    Survival rate tergantung dari stadium dan tipe tumor testis :
    · Stage I seminoma à 99% kesembuhan.
    · Stage I nonseminoma à 97%-99% kesembuhan.
    · Stage IIA seminoma à 95% kesembuhan.
    · Stage IIB seminoma à 80% kesembuhan.
    · Stage IIA nonseminoma à 98% kesembuhan.
    · Stage IIB nonseminoma à 95% kesembuhan.
    · Stage III seminoma à 80% kesembuhan.
    · Stage III nonseminoma à 80% kesembuhan.



    VI. PENUTUP

    Tumor testis merupakan benjolan yang berasal dari neoplasma sel germinal atau jaringan stroma testis. Lebih dari 90% berasal dari sel germinal. Tumor ini mempunyai derajat keganasan yang tinggi, tetapi dapat sembuh bila diberikan penanganan yang adekuat. Tumor biasanya terjadi hanya pada satu sisi testis (Biasanya, dua tumor ditemukan pada waktu yang berlainan).

    Tumor germ cell testis meliputi lebih dari 90% seluruh tumor testis. Tumor ini berasal dari pluripotent germ cell yang dapat berdiferensiasi menjadi struktur embrional (teratoma dan karsinoma embrional), struktur plasenta (tumor yolk sac dan koriokarsinoma) atau seminoma (tumor germ cell yang paling primitif). Kanker germ cell menunjukkan salah satu atau lebih gambaran histopatologi. Keganasan testis lain termasuk limfoma, kanker metastasis, leukemia, tumor stroma testis, dan lain-lain.

    Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pasien biasanya datang dengan berbagai keluhan sebagai berikut : sebuah benjolan atau pembesaran pada testis, perasaan berat di skrotum, rasa nyeri di perut atau pangkal paha, penumpukan cairan secara tiba-tiba di dalam skrotum, nyeri atau ketidaknyamanan di testis atau skrotum, pembesaran payudara, biasanya mempengaruhi hanya satu testis.

    Pada pemeriksaan fisik didapatkan testis membesar, membengkak, perubahan payudara (gynecomastia), benjolan pada abdomen kemungkinan karena pembesaran kelenjar limfe (tanda penyebaran kanker).

    Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan radiologis berupa : ultrasonografi, CT scan abdomen, MRI, rontgen Dada.

    Diagnosis banding tumor testis antara lain : epididimitis, orkitis, torsio testis, hidrokel, varikokel, spermatokel, hernia skrotalis.
    Terapi yang dilakukan tergantung stadium, bisa dilakukan radioterapi dan retroperitoneal lymphnode dissection (RPLND).
    Kekayaan itu penting tapi sehat jauh lebih penting,
    Tanpa hidup sehat, apalah arti hidup bahagia,
    Tubuh sehat, adalah awal suksesmu.
  2. # ADS
    Circuit advertisement
    Bergabung
    Always
    Lokasi
    Advertising world
    Posts
    Many
    BursaBet
     

Agen Togel Nasional Online

Agen Judi bola Online

www.ZenBola.com
Agen Judi Poker Domino 99 Online

Agen Judi bola Online
Judi Poker Domino 99 ituQQ   Agen Judi Togel Online Asli4D